Oleh:
Nandar Ahmad Faizal
Peserta Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis Nurul Fikri (PPSDMS NF) Regional 2 Bandung Angkatan Ke-4
Kemarin tanggal 28 Oktober kita semua telah memperingati hari sumpah pemuda, dan sebentar lagi akan memperingati hari pahlawan yaitu tanggal 10 November. Kedua hari besar nasional ini sangat erat hubungannya dengan nasionalisme dan persatuan bangsa. Pada hari sumpah pemuda ini telah terjadi kesepakatan dari para pemuda dari berbagai daerah untuk berikrar meleburkan semua ego kedaerahaannya menjadi satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air yaitu Indonesia. Peristiwa ini sangat penting, karena dari sisnilah mulai tumbuh kesadaran akan persatuan Indonesia. Mereka yang berlatarbelakang daerahnya berbeda, budayanya berbeda, bahasa berbeda, dan agama yang berbeda berhasil menyisihkan keberbedaan mereka untuk menuju persatuan. Anak-anak muda khususnya yang terpelajar dengan segala keterbatasan mereka pada waktu itu dan dengan ketidakbebasan dari penjajah masih bisa memikirkan akan persatuan dan masa depan bangsa. Mereka dengan keberaniannya yang didasari kepedulian pada bangsa rela bersusah payah melakukan pertemuan-pertemuan dengan sembunyi-sembunyi. Padahal kalau dipikirkan, apa yang mereka perjuangkan itu mungkin tidak akan dapat mereka nikmati sendiri. Tapi toh mereka tetap melanjutkan perjuangannya.
Delapan puluh tahun sudah momen telah berlalu. Lalu bagaimana dengan rasa persatuan dan rasa nasionalisme pada diri anak muda sekarang ini? Pernyataan ini sangat pantas dipertanyakan mengingat keadaan anak muda sekarang yang kelihatannya telah jauh keadaannya dengan delapan puluh tahun yang lalu. Jaman sekarang ini kayaknya agak sulit menemukan sifat-sifat yang mencerminkman rasa nasionalisme seperti dulu itu. Kebanyakan dari anak muda sekarang cenderung kea rah pola hidup hura-hura dan apatis terhadap keadaan-keadaan bangsa atau bahkan lingkungan mereka sendiri. Ini kita bias lihat di kampus-kampus, banyak dari para mahasiswa yang kerjaannya hanya nongkrng-nongkrong sambil merokok dan bermain kartu. Sangat sedikit dari mereka yang berkumpul untuk berdiskusi membahas masalah-masalah bangsa dan Negara ini. Dan yang lebih disayangkan lagi ketika ada pun kegiatan-kegiatan atau pergerakan kemahasiswaan yang menyangkut masalah Negara, mereka cenderung lebih sering membawa isu-isu tentang kepentingan kelompok atau membawa ego kedaerahan yang sangat jauh dari rasa persatuan. Maka tidak heran bila sering terjadi tawuran antar kelompok mahasiswa.
Lalu mengapa hal ini bias terjadi? perbedaan sikap antara anak muda khususnya kaum terpelajar anatara dahulu dan sekarang? Ini terjadi karena ada yang salah pada sistem pendidikan, baik pendidikan formal di sekolah dan yang paling parah adalah pendidikan yang mendasar di keluarga. Pola pendidikan kita di keluarga sekarang ini telah cenderung pada pendidikan materialistis. Para orang tua mendidik anak-anaknya mengukur keberhasilan mereka dengan materil. Contohnya para orang tua sekarang suka mencontohkan pada anaknya-anaknya orang yang sukses itu adalah orang yang kaya. Kita selalu mendengar orang tua berkata, “Sekolah yang bener kamu, tuh lihat orang itu sekarang sudah menjadi pejabat, telah kaya, uangnya dimana-mana, dan gak susah lagi”. Jadi,dengan sendirinya generasi muda yang dibentuk dengan pola pendidikan eperti itu akan berpikiran materialistis, kalupun mereka bercita-cita ingin menjadi pejabat tetap saja orientasinya untuk uang bukan untuk pengabdian pada negara. Mereka akan selalu berorientasi dalam hidupnya pada harta kekeyaan.
Sebenarnya hal ini tidak terlepas dari perubahan zaman. Kita sekarang telah memasuki era globalisasi yang membuat kita dengan sangat mudah berinteraksi dengan bangsa lain. Tentu saja interaksi kira dengan bangsa dari luar ini membuat kita brinteraksi juga dengan ideology, pola hidup,pandangan hidup, dan gaya hidup mereka. Anak-anak muda sangat mudah sekali menerima kebudayaan dari luar itu baik yang sesuai ataupun yang tidak sesuai dengan masyarakat kita. Kalau saja anak-anak muda kita dilandasi dengan pendidikan yang benar di lingkungan keluarga dan skolah tentu saja mereka tidak akan mudah menerima kebudayaan-kebudayaan yang dari luar itu. Mereka sedikitnya akan punya landasan untuk menanggapi hal-hal yang datang dari luar itu.
Memang harus kita akui bahwa era globalisasi ini membuat banyak kemudahan bagi kita. Tapi kita juga harus tahu bahwa era globalisasi ini telah menimbulkan dampak yang negative terhadap rasa nasionalisme kita. Sebenarnya hal ini telah sering dibahas di bahas orang di berbagai media. Seperti yang saya ambil dari salah satu blog dibawah ini, ada bebrapa pengaruh negative globalisasi pada rasa nasionalisme, anatara lain:
1. Globalisasi telah menunjukan pada kita bahwa negara-negara barat dengan faham liberalnya telah jauh lebih makmur daripada kita. Sehingga lama kelamaan rasa bangga pada negara kita uang berideologi pancasila akan perlahan-lahan memudar.
2. Hilangnya cinta produk dalam negeri. Hal ini terjadi karena sangat bebasnya produk-produk luar negeri masuk ke Indoneseia. Mereka lebih unggul karena kebanyakan mereka instan. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
3. Gaya hidup yang cenderung keberet-baratan yang sesungguhnya sangat tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Hal ini terlihat misalnya dalam cara berpakaian, rambut, musik,pergaulan bebas,dll. Jika hal ini dibiarkan akan menghilangkan identitas diri bangsa kita.
4. Persaingan bebas dalam perekonomian kita. Sehingga yang dipikirka hanya keuntungan pribadi saja tanpa peduli terhadap orang lain
Pengaruh-pengaruh diatas jika kita tidak segera mengatasimya akan membuat rasa nasionalisme pada diri kita menjadi berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Oleh karena itu kita harus mulai mereaksi keadan ini dengan menyelamatkan anak-anak muda dari hal-hal seperti diatas. Caranya kita harus mulai membenahi pendidikan baik disekolah bahkan dirumah dengan mengikis sifat-sifat materialistis dan individualistis yang jelas-jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita yang mengutamakan kebersamaan. Dengan ini diharapkan dimulai dari keluarga akan muncul orang-orang yang memiliki sifat-sifat seperti anak-anak muda tahun 1928-an yang nasionalis.
1 komentar:
hmmmz, hidup SYARI'AH dan KHILAFAH ....
Posting Komentar