Kamis, 12 Maret 2009

Selektif memilih Calon Anggota Legislatif

Kurang lebih sekitar satu bulan lagi tepatnya pada tanggal 9 april masyarakat Indonesia akan mengikuti pesta demokrasi secara nasional. Mereka akan memilih wakil-wakil mereka yang akan duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat. Sebuah lembaga yang menjadi symbol keterwakilan rakyat dalam pemerintahan atau sebagai tempat penyampaian aspirasi masyarakat.
Pada pemilu kali ini sangat terasa suasana antusiasme orang-orang untuk mengokuti atau bersaing menjadi calon anggota legislative. Hal ini bisa kita lihat dengan banyaknya anggota masyarakat yang mencalonkan diri. Latar belakang nya pun sekarang semakin beragam, mulai dari tukang mahasiswa, artis, dan anggota-anggota DPR yang telah lama. Hal ini bisa disebabkan karena syarat unutk menjadi seorang anggota legislative itu relative lebih mudah bila dimandingkan bila kita ingin memasuki ke ranah pemerintahan di bidang yudikatif dan eksekutif. contohnya saja untuk mencalonkan diri menjadi seorang anggota legislative hanya disyaratkan menempuh pendidikan formal sampai tingkat Sekolah Menengah Atas atau yang sederajat. Hal itu jelas berbeda bila kita ingin masuk ke bidang eksekutif contohnya saja guru yang disyaratkan harus sarjana. Yang terpenting untuk menjadi anggota legislative itu adalag popularitas, bagaimana dia dikenal di masyarakat sehinnga waktu pemilu banyak yang milih.
Oleh karena itu, untuk meraih suara yang sebanyak-banyaknya, banyak partai yang merekrut calegnya dari kalangan yang sudah di kenal luas masyarakat seperti artis, pelawak, dan lain-lain. Memang sangat kalihatan sekali hasratnya untuk berkuasa tanpa melihat kualitas caleg yang diusungnya. Tapi yang sangat disayangkan adalah ada partai yang memasang iklan bagi siapa yang mau menjadi caleg melalui partai tersebut. Ini membuktikan bahwa partai ini sebenarnya tidak percaya pada kader sendiri atau mungkin tidak mempunyai kader.
Kita sekarang ini membutuhkan para caleg yang benar-benar menwarkan kepada kita sebuah perubahan yang jelas. Karena jika kita mengamati kesadaan anggota DPR saat ini, sangat jaus keadaannya dari apa yang kita inginkan. Banyak sekali tingkah laku mereka yang sangat jauh dari cerminan para wakil rakyat. Mulai dari Bolos rapat, SMSan ketika sedang rapat, main wanita, sampai-sampai korupsi yang berarti memakan uang hak yang dia wakili. Dan memang kasus yang paling sering menimpa angota DPR itu adalah korupsi.
Kasus terkini yang sedang rame dibicarakan orang tentang kelakuan anggota DPR adalah kasus tertangkapnya seorang anggota DPR sedang menerima suap. Salah satu anggotanya yang berasal dari Feraksi Amanat Nasional tersebut tertangkap oleh Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) ketika menerima uang suap dari rekanannya. Peristiwa ini seakan membangkitkan kembali ingatan kita pada berbagai peristiwa yang dulu. Dimana banyak sekali para anggota DPR yang tersangkut kasus korupsi sebelumnya, seperti Al Amin Nur Nasution dan Bulyan Royan.
Selain mereka, sejumlah anggota dan mantan anggota DPR juga telah diproses secara hokum seperti Yusuf Erwin Faisal, Sarjan Tahir, Hamka Yamdhu, Anthoni Zeidra Bidhin, dan Saleh djasit. Mereka semua tersangkut masalah korupsi.
Sungguh sangat ironis ketika mereka diberikan gaji yang besar dengan berbagai tunjangan dan fasilitas lainnya tapi masih ingin makanuang punya orang lain.
Korupsi di kalangan anggota DPR ini sangat berbahaya bagi kehidupan bernegara di Indonesia ini. Bagaimana tidak, jika kita melihat pasal 20 A ayat (1) menyebutkan bahwa: “Dewan Perwakilan Rakyat memiliki fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan”, sangat jelas sekali fungsi DPR ini sangat strategis. Sehingga jika orang-orang yang ada di dalamnya untuk menjalankan fungsi-fungsi tersebut tidak beres maka funsi-fungsi itu pun tidak akan berjalan dengan baik.
Hal ini tidak boleh terus dibiarkan. Masyarakat Indonesia harus lebih cerdas dan selektif dalam memilih para wakilnya. Pemilu 2009 ini menjadi momentum yang tepat untuk mlekukan perubahan kea rah yang lebih baik itu. Dalam memilih caleg-caleg ini kita masyarakat jangan asal-asalan, kita harus menilai siapa sja yang pantas jadi legislative itu. Dengan seperti itu kita ikut membantu memperbaiki Negara ini. Setidaknya dalam memilih caleg tersebut harus melihat dulu beberapa hal, yaitu:
1. Latar belakang pendidikan
Kita harus lihat apakah latar pendidikannya mendukug untuk melakukan fungsi dari DPR tersebut, yaitu fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengontrolan pada pemerintah.
2. Sumber dana untuk dia berkampanye.
Jangan sampai ketika dia menjadi anggota legislate, dia sibuk ngembaliin dana modal untuk kampanye.
3. Cara perekrutan oleh Partai politik
Perkrutan yang asal-asalan dan ngedadak akan menghasilkan caleg yang asal-asalan juga
4. Track record dia pada pekerjaannya yang lalu. Kalu dia sebelumnya sudah menjadi anggota DPR kita harus malihat apakah dia pernah melakukan hal-hal yang tidak pantas seperti korupsi, dan bahkan sering bnolos rapat pun harus kita perhatikan.
5. Cara dia berkampanye. Jika caranya dia berkampanye sja sudah melanggar aturan, bagaimana kalau dia telah mnejadi anggota DPR beneran, bisa lebih rusak.
Setidaknya dengan kita melihat criteria diatas, kita bisa memperkecil kemungkianan kita untuk memilih calon legislative yang rusak. Dengan kita memilih caleg dengan benar, maka setidaknya kita telah ikut turut serta membangun Negara dengan menempatkan oorang yang bener pada jabatan sesetrategis anggota DPR